Syair Abu Nawas

Sepenggal Cerita dan Syair Abu Nawas di Masa Kalifah Harun Ar-Rasyid

Abu Nawas, memiliki nama asli Abu Ali Hasan bin Hani Al-Hakim. Seorang pujangga syair arab yang terkenal dari negeri Persia. Memiliki darah keturunan Arab Persia. Beliau lebih dikenal dengan sosok bijaksana yang lucu dengan syair seni abu nawas yang mengoleskan syair dengan kata jenaka di dalamnya.

Meski kebanyakan masyarakat Indonesia mengnggapnya sebagai tikoh yang lucu, sebenarnya beliau adalah seorang ilmuwan yang cerdas. Terbukti dengan banyaknya kisah cerita dan syair indah muncul dari karya tulis dan berpikir otaknya.

Kisah Abu Nawas

Di negeri Persia tak hanya terkenal dengan kaligrafi khat nya saja. Ada beberapa nama tokoh yang sohor di dunia terlahir dari daerah Persia. Salah satunya Abu Nawas.

Terlahir di tanah Persia pada tahun 145 H atau 756 M. Beranjak tumbuh dewasa dengan status yatim, tanpa seorang ayah. Karena sang ayah telah meninggal dunia ketika perang berkecambuk di negaranya.

Di Bashrah, Irak. Abu nawas kecil telah dikenal sebagai penyair cilik. Kecerdasannya dalam mengolah kata membuat teman, guru dan orang-orang sekitar terperanga ketika menyaksikan karyanya.

Dia mulai berkumpul bersama para penyair lain ketika dewasa, dan ketika itu pula ia banyak para bangsawan mulai mengenalnya. Namun karena salah satu syairnya terdapat kalimat yang menyinggung kekahlifahan setempat, hal tersebut membuat Abu Nawas dipenjarakan.

Sebab itulah hidupnya tidak menentu dan telah ditemukan meninggal dunia pada 814 M dan dikebumikan di Kota Syunizi. Abu Nawas ditemukan meninggal dunia karena dianiyaya oleh keluarga yang iri terhadapa kehidupannya. na’uddzubillahi minsyarri dzalik.

Syair yang bercorak jenaka telah padam dari karyanya. Dan yang paling berkesan dari ribuan syair beliau adalah cerita hidupnya telah diabadikan dalam kisah yang berjudul “Kisah 1001 Malam”. Berisi tentang pengalaman hidup yang telah dilalui Abu Nawas.

Mengapa kisahnya bisa menjadi dikenal dunia? Karena dalam penulisan kisah 1001 malam menggunakan bahasa hati dengan luapan jiwa yang ditambah gaya bahasa jenaka khas Abu Nawas.

Kisah Abu Nawas dan Harun Ar-Rasyid

Kisah Abu Nawas dan HArun Ar-Rasyid

Abu Nawas merupakan seorang yang hidup di masa pemerintahan Khalifah Harun Al Rasyid, Sebutannya Raja juga. Suatu hari Harun Ar-Rasyid berkutbah di depan para hadirin yang dihadiri oleh Abu Nawas pula.

Setelah sholat jumat dan para jamaah selesai mendirikan shalat sunnah ba’diyah. Beliau mengumumkan sesuatu yang dianggap penting. Para hadirin pun tercengang dan terjadi kegaduhan gara-gara desakan ingin tahu apa yang disampaikan Sang Khalifah.

Beliau berdiri tegap dan berkata di hadapan hadirin “Daerah sekitar masjid ini sangat ramai, Sehingga kita perlu memindahkan masjid ini. Siapa yang bisa memindahkan masjid ini akan saya beri hadiah berupa sedekah sekarung emas”.

Namun tak seorangpun menyahut pertanyaan yang diajukan Harun Ar-Rasyid. Maka Sang Bagindapun mengulangi pengumuman tersebut berkali-kali tapi tetap saja tak ada yang menjawab. Hingga para hadirin silih berganti pulang meninggalkan Sang Khalifah.

Tertujulah mata beliau kepada Abu Nawas yang masih berdiri di hadapan Khalifah.

“Abu Nawas, bagaimana denganmu apakah kamu bisa?” tanya Sang Raja. Abu Nawas pun terkejut,sembari menjawab, “Saya akan memindahkan masjid, tapi dengan satu syarat, Baginda.”

“Apa itu? katakan saja!” jawab Baginda Raja. “Sebelum saya mampu memindahkan masjid ini Jumat pekan depan, Baginda harus mengadakan pesta makan bersama untuk kami,” tantang Abu Nawas kepada Raja.

Semua orang yang hadir terdiam dan kaget. Mana mungkin seorang diri mampu memindahkan masjid ke tempat lain? Sepuluh atau seratus orang pun masih kurang.

Haripun terus berganti. Kini tiba saatnya yang dinanti banyak orang. Tepat pada hari Jumat di depan masjid para warga sekitar mendatangi pesta yang di adakan Sang Raja. Setelah pesta selesai, para warga telah berdesakan untuk melihat apa yang akan dilakukan Abu Nawas ketika memindahkan masjid.

Sang Raja dengan tegas memerintah kepada Abu Nawas “Hei Abu Nawas, lakukan tugasmu hari ini!”.

“Baik Baginda, akan ku pindahkan masjid ini dengan cara dipikulkan di pundak saya,” sahut Abu Nawas.

Orang-orang yang menyaksikanpun tercengang dan terkagum amat sangat. Abu Nawas pun mulai maju ke depan dan menggulung bajunya agar tidak mengganggu gerak tangannya. Para wargapun semakin kaget. Apa benar Abu Nawas bisa angkat bangunan sebesar ini.

Sesampai di dekat dinding masjid Abu Nawas berteriak “Wahai saudara-saudaraku, maukah kalian membantuku. Tolong angkatkan masjid ini di pundakku karena bila aku mengangkatnya langsung di pundak aku tidak mampu. Oleh karena itu aku meminta kamu sekalian untuk mengankatnya sekali saja di pundakku”.

Semua hadirin pun tekejut kembali. “Tuan-tuanku, jumlah kalian sangat banyak, seluruhnya lebih dari dua ratus orang. Kalian baru saja memakan makanan pesta besar, kalian harusnya kuat. Tolong bantu saya mengangkat masjid ini ke pundakku”, tambah Abu Nawas.

Seorang warga pun berkata, “Abu Nawas, apa kau gila? Kami tidak akan dapat mengangkatnya!” Para hadirin pun juga mengatakan hal yang sama dan ada yang mencaci Abu Nawas dengan seruan meremehkan dirinya sendiri.

“Baginda, bukan salahku untuk tidak memindahkan masjid, para hadirin warga yang hadir tidak mau membantuku dengan mengangkatkan masjid ini ke pundakku,” kata Abu Nawas kepada Harun al Rasyid.

Setelah mendengar celoteh lucu dari Abu Nawas yang terakhir tadi Sang Raja pun tersenyum masam. Tapi ia memberikan acungan jempol atas cara yang digunakan Abu Nawas untuk berkelit menolak pemindahan masjid.

Syair Abu Nawas

syair abu nawas arab

Syi’ir atau syair ini sering dibaca setelah selesai melaksanakan shalat Jum’at sebelum posisi duduk berubah dari tahiyat akhirnya, Insya Allah, dengan berdoa melalui syair ini dosa-dosa kita akan di ampuni oleh Allah swt, berkah karomah dari sang pengarangnya, salah seorang Wali yang Majdzub Billah, Abu Nawas.

***

إِلهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً

وَلاَ أَقْوَى عَلىَ النَّارِ الجَحِيْمِ

ILAHII LASTU LIL FIRDAUSIL AHLA(N) 

WA LAA AQWAA ‘ALAN-NARIL JAHIMI

Duh Pengeran kula sanes ahli suwarga. Nanging kula mboten kiyat wonten neraka

Wahai Tuhanku, hamba tidakpantas menjadi penghuni surga. Namun hamba tidakkuat pula jika dimasukkan ke dalam neraka jahanam

***

فَهَبْ ليِ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبيِ

فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ العَظِيْمِ

FAHAB LII TAUBATAW WAGHFIR DZUNUUBI

FAINNAKA GHOOFIRUN DZAMBIL ‘ADZHIIMI

Mugi Tuhan paring taubat dumateng kula. Estu Tuhan kang ngapura agunge dosa

Semoga Tuhan menerima taubat hamba, karena Engkaulah Dzat yang mengampuni dosa-dosa yang amat besar

***

ذُنُوْبيِ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ

فَهَبْ ليِ تَوْبَةً يَاذاَالجَلاَلِ

DZUNUBII MITSLA A’DAIDIR RIMAALI

FAHAB LII TAUBATAN YA DZAL JALAALI

Dosa kula kados wedhi ing segara. Mugi gusti kersa nampi taubat kula

Dosa hamba laksana pasir di lautan, maka terimalah taubatku Wahai dZat Yang Maha Agung

***

وَعُمْرِي نَاقِصٌ فيِ كُلِّ يَوْمٍ

وَذَنْبيِ زَئِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ

WA ‘UMRII NAAQISHUN FII KULLI YAUMIN

WA DZAMBII ZAIDUN KAIFAHTIMAALI

Saben dinten dosa kula tambah umur suda. Kados pundi anggenipun kula nyangga

Setiap hari umurku berkurang sedangkan dosaku bertambah. Bagaimana hamba akan kaut memikulnya

***

إِلهِي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ

مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ

ILAHI ABDUKAL ‘AASHI ATAAKA

MUQIRROM BIDZUNUUBI WAQOD DA’AAKA

Duh Gusti kawula sowan dhateng Paduka. Sarana ngakeni dosa kelawan ndunga

Ya Tuhan, hamba-Mu yang penuh dengan kemaksiatan datang pada-Mu, dengan mengakui dosa-dosa hamba melalui doa kepada-Mu

***

فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَا أَهْلٌ

فَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاكَ

FAIN TAGHFIR FA ANTA LIDZAA AHLUN

FAIN TATHRUD FAMAN NARJU SIWAAKA

Yen paring ngapura estu Gusti kuwasa. Yen mboten dingapura sinten pengajeng kula

Hanya Engkaulah Dzat yang mampu memberikan keampunan, jika bukan Engkau, lalu kepada siapa lagi hamba berharap

Video Syair Doa Abu Nawas

Demikian sekelumit tentang kisah, cerita, sejarah dan syair Abu Nawas secara ringkas. Semoga dapat membuka wawasan bagi Anda. Dan menjadi materi baru pengenalan sosok jenaka yang telah lama terkenal di Timur Tengah. Dialah Abu Nawas seorang puitis dan penulis yang humoris. Semoga bermanfaat.

husni

Solo (Spirit of Java) - Magetan - Young - Moslem - Publisher - Marketer Online - Student - Worker

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *