Sejarah Kota Solo

Sejarah Kota Solo

Hai sobat, apa yang pertama kali Anda ingat ketika mendengar nama Solo? Pasti jawabannya antara budayanya yang masih kental, wisata atau keratonnya. Dimana-mana kota Solo memang terkenal dengan 3 hal tersebut. Sayangnya, masih banyak yang belum tahu tentang asal-muasal & sejarah kota Solo.

Jika Anda adalah salah satunya, maka pastikan untuk membaca artikel dibawah ini. Anda akan “dicecoki” berbagai sejarah seputar kota yang terkenal dengan logatnya yang lembut. Pastikan Anda mengambil tempat yang nyaman, terang dan tenang sebelum membacanya.

Sejarah Lahirnya Kota Solo

Sejarah Solo Surakarta

Solo, kota yan terkenal dengan wisatanya yang menjamur. Entah itu wisata alam, sejarah atau bahkan oleh-oleh Kota Solo. Tidak heran, jika Solo banyak dijadikan tujuan tempat berlibur oleh sebagian besar masyarakat.

Sejak awal, kota Solo memang banyak “dikunjungi” oleh orang-orang. Tepatnya ketika seluruh rakyat keraton Kasunanan bermigrasi ke Desa Sala. Konon, migrasi besar-besaran itu terjadi pada tanggal 18 Februari 1745 M. Jika Anda penasaran mengapa mereka bermigrasi, berikut cerita singkat yang dirangkum dari makalah.

Bermula dari pemindahan Keraton Kertasura

  • Cerita ini bermula dari rasa kecewa Raden Mas Said terhadap keraton Kartasura. Raja Kartasura kala itu tengah memangkas daerah Sukowati dan sekitarnya. Padahal, menurut Raden Mas Said, mestinya daerah itu adalah miliknya karena dulunya keraton Kartasura memberikannya kepada ayahnya.
  • Kemarahan itu didukung oleh orang-orang Cina yang melarikan diri dari VOC Belanda. Koalisi antara Raden Mas Said dan pemberontak membuahkan aksi-aksi pemberontakan yang besar. Memakan sekian banyak korban tidak kunjung membuat 2 kubu mendinginkan kepala. Justru peperangan semakin menjadi-jadi.
  • Tak ayal, para kerabat dan abdi dalem melarikan diri dan mencari tempat pengungsian di daerah Pacitan sampai Ponorogo. Kala itu, bangunan dan harta yang tersimpan di keraton habis terjarah dan hancur total. Setelah sekian lama, peperangan itu akhirnya selesai dengan dikalahkannya para pemberontak.
  • Baginda Sunan Pakubuana kemudian menginstruksikan kepada bawahannya untuk memindah kerajaan Kartasura. Ada 3 opsi yang dipilih: Desa Kadipolo, Sewu dan Sana. Setelah beberapa kali perundingan, dipilihlah Desa Sana sebagai tempat kerajaan yang baru.

Solo sudah diakui sejak 17 Agustus 1945

Lahirnya keraton Surakarta yang baru memberi harapan yang cerah bagi rakyat kala itu. Meskipun letaknya tidak sampai 10 Km dari bekas kerajaan lama, tapi rakyat masih percaya akan masa depan yang cerah. Peristiwa-peristiwa ini sampai sekarang diperingati sebagai hari lahirnya kota Solo.

Adapun terbentuknya kota Solo dimulai sejak diakui sebagai bagian republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Pemerintah Indonesia membutuhkan waktu kira-kira 10 bulan untuk membujuk kerajaan Kasunan dan Mangkunegaran agar bersedia menjadi bagian dari negara Indonesia.

Keraton Surakarta kemudian dijadikan keresidenan. Pemerintah kemudian meresmikan kota Solo pada  tanggal 16 Juni 1946. Posisinya berada dibawah administrasi provinsi Jawa Tengah dan berstatus otonom semenjak berlakunya UU Pemerintahan Daerah.

Julukan Khas Solo

Sejarah Kota Surakarta

  1. Surakarta

Seperti yang Anda ketahui, Kota Solo memiliki nama lain Surakarta. Dari teks-teks sejarah, nama ini diberikan langsung oleh Sunan Baginda Pakubuana. Untuk menghormatinya, akhirnya masyarakat Solo masih memakai nama Surakarta sebagai nama lain dari Solo.

Solo sendiri berasal dari penamaan orang-orang Belanda. Menurut Buku-buku sejarah, penjajah Belanda waktu itu kesulitan untuk menyebut daerah Sala. Jadi mereka mengubah namanya menjadi Solo. orang Indonesia akhirnya mengikuti kebiasaan tersebut dan terbiasa memanggilnya Solo.

  1. Kota Berseri

Selain memiliki 2 penamaan, Solo juga mempunyai beberapa julukan. Anda bisa memanggilnya kota “Berseri”, singkatan dari bersih, sehat, rapi dan indah. Alasannya, pemerintah ingin memasarkan kota Solo sebagai kota dengan ciri-ciri diatas.

  1. Kota Batik

Ada juga yang memanggilnya kota Batik, karena ciri khas motif batiknya yang khas dan berbeda dengan batik-batik lain pada umumnya. Oleh sebab itu, batik juga dijadikan ikon resmi kota Solo. Batik Solo juga sudah terkenal sampai ke manca negara.

  1. Kota Liwet

Kota Liwet juga disematkan kepada Solo. Makanan Solo satu ini memang tradisional cukup favorit. Tepatnya berasal dari kabupaten Sukoharjo. Makanan ini oleh masyarakat sekitar dipercaya dapat menolak bala’. Karenanya penamaan kota Liwet agar masyarakat Solo terhindar dari marabahaya.

Terakhir, Anda bisa menyebut kota Solo dengan julukan spirit of java (ruh pulau Jawa). Mengapa? Sebab Solo memiliki sejarah dan kebudayaan yang hampir berusia 250 tahun. Banyak sekali bangunan dan benda bersejarah yang ditemukan disana. adapaun situs bersejarah paling populer adalah keraton Solo.

Keraton Solo

Keraton Surakarta Solo

Rasanya belum lengkap jika mampir ke Solo tapi tidak berkunjung ke keratonnya. Keraton ini memang menjadi ikon wisata di kota Surakarta. Selain karena pemandangannya yang eksotis, Keraton Solo memiliki sejarah panjang sejak berdirinya.

Secara arsitektur, keraton Solo memang hampir sama dengan keraton Jogja. Persamaan ini tidak terjadi secara kebetulan. Sebab salah satu arsitek yang merancangnya adalah Sultan Hamengkubuwana I. Beliau jugalah yang merancang keraton Jogja dimasa hidupnya.

Arsitektur Jawa dan Eropa

Gaya arsitektur keraton Solo mencampurkan nuansa Jawa dan Eropa dengan dominasi warna putih dan biru

Sebenarnya, bentuk asli dari keraton Solo tidaklah demikian. Pembangunan dan perubahan dilakukan secara bertahap. Terakhir restorasi bangunan keraton dilakukan oleh Sunan Pakubuana X.

Adapun kompleks yang ada didalam keraton Solo terbagi menjadi dua: Utara dan Selatan. Seluruh kompleks keraton juga dikeliling oleh dinding Baluwarti. Tingginya sekitar 3-5 meter. Adapun bangunan yang terdapat di kompleks utara meliputi:

  • Alun-alun utara (Lor)
  • Sasana Sumewa
  • Siti Hinggil
  • Kamandungan Utara (Lor)
  • Sri Manganti
  • Kedaton

Sedangkan bangunan-bangunan di kompleks selatan meliputi:

  • Magangan
  • Sri Manganti
  • Kamandungan
  • Siti Hinggil Selatan (Kidul)

Kedua kompleks ini memiliki makna filosofis tersendiri. Oleh karenanya, upacara maupun ritual budaya sering dilakukan di kedua kompleks tersebut. misalnya upacara Grebek dan Sekaten. Ada lagi upacara Kirab Mubeng Benteng yang dilakukan pada malam 1 Sura.

Keraton yang masih kental akan makna filosofis

Seluruh kawasan kompleks keraton terbuka bagi masyarakat. Kecuali di bagian barat Kedaton. Karena kawasan ini adalah tempat tinggal resmi seluruh anggota keluarga Sri Sunan sampai sekarang. Dan dibagian belakangnya terdapat Taman Sari Bandengan yang digunakan sebagai tempat meditasi.

Tentunya penempatan bangunan dan atau perayaan tertentu di keraton Solo memiliki makna filosofis tersendiri. Bahkan tidak hanya itu, nama bangunan, benda pusaka, dan pakaian adat keraton juga memiliki cerita mitologi dan makna filosofisnya masing-masing.

Misalnya seperti cermin berukuran besar yang terletak di kiri-kanan kompleks Kamandungan. Cermin ini memiliki makna filosofis agar orang-orang berintropeksi. Dalam bahasa Kromo Inggil, Kamandungan berasal dari kata mandung yang berarti berhenti. Yakni berhenti sejenak untuk berintropeksi diri.

Sayangnya, banyak orang yang melupakan makna-makna filosofis ini. Semakin hari, cerita dan mitologi seputar keraton Solo semakin menghilang satu persatu. Padahal dengan menjaga cerita tersebut tetap ada adalah salah satu bentuk pelestarian kebudayaan Keraton Solo.

Tinggalkan komentar