Rumah Adat Jawa (Jawa Tegah, Jawa Barat dan Jawa Timur)

Rumah Adat Jawa (Jawa Tegah, Jawa Barat dan Jawa Timur) – Bangsa Indonesia perlu berbangga dengan keanekaragaman budaya warisan nenek moyang. Mulai dari adat istiadat, kesenian, pakaian daerah, alat musik, hingga rumah adat. Di pulau Jawa sendiri banyak rumah adat dengan keunikannya masing-masing. Jawa dibagi ke dalam tiga provinsi yaitu Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Perbedaan rumah adat paling dominan terlihat pada bentuk atap rumahnya. Bentuk atap rumah daerah biasanya disesuaikan dengan strata atau status sosial pemilik rumah yang bersangkutan. Pemilik rumah golongan bangsawan akan berbeda dengan masyarakat biasa.

Tak hanya bentuk atapnya saja, namun pembuatan rumah adat di Jawa tidak sembarangan dilakukan. Masyarakat percaya akan “peteng” atau perhitungan dalam pembuatan rumah adat tersebut. Hal tersebut berkaitan dengan letak, arah, posisi pintu, bentuk kerangka, hingga ukuran.

Macam-Macam Rumah Adat Jawa

Jika didasarkan pada bentuk atapnya, secara keseluruhan rumah adat Jawa dibedakan ke dalam 5 jenis yaitu rumah Joglo, Kampung, Panggangpe, Limasan, serta Tajug. Berikut pembahasan lengkapnya:

  1. Rumah Joglo

rumah adat jawa joglo

Rumah Joglo adalah rumah adat Jawa Tengah. Namun, masyarakat Jawa Timur juga banyak yang membangun rumah Joglo. Rumah adat ini memiliki keunikan yang terletak pada atapnya. Atap rumah berbentuk atap ruang yang menjulang tinggi dan disangga oleh 4 tiang. Dalam istilah jawa keempat tiang penyangga tersebut dikenal dengan istilah “Soko Guru“.

Rumah adat Joglo terlihat lebih gagah dan besar, jika dibandingkan dengan rumah adat Jawa yang lainnya. Joglo juga menjadi rumah adat ikonik dan paling populer di Jawa. Banyak masyarakat yang masih mempertahakan rumah adat Joglo walaupun sudah banyak desain rumah modern saat ini.

Joglo biasanya dibangun oleh masyarakat kalangan menengah, seperti bangsawan dan priayi. Hal ini dikarenakan, untuk membangun rumah adat Jawa Joglo membutuhkan biaya yang cukup besar, mulai dari bahan bangunan dari kayu jati dan lahan yang luas. Namun, seiring berkembangnya zaman, banyak masyarakat dari berbagai kalangan yang membangun rumah Joglo tanpa memperhatikan strata sosialnya.

  1. Rumah Kampung Jawa

rumah adat kampung

Rumah Jawa Kampung merupakan rumah adat yang biasanya dibangun oleh masyarakat biasa. Rumah ini berbentuk persegi panjang dengan dua atap berbentuk persegi panjang di sisi samping. Sementara untuk bagian atapnya berbentuk tutup keong. Jika dilihat dari struktur bangunan, Rumah Kampung adalah rumah adat dengan struktur bangunan yang sanga sederhana.

Pada bangunan rumah ini, disangga oleh 4 tiang tengah dan 2 lapis tiang pengikat yang berguna untuk tempat bersandar atap rumah. Saat berkunjung ke desa-desa di wilayah Jawa, Anda akan menemukan Rumah Kampung, karena rumah ini memang banyak dimiliki oleh masyarakat pedesaan. Hal ini kemudian memuculkan persepsi bahwa Rumah Kampung diperuntukkan bagi masyarakat dengan status sosial dan ekonomi rendah.

  1. Rumah Panggangpe

Rumah Adat Jawa Panggang pe

Selanjutnya, rumah adat yang ada di pulau Jawa yaitu Rumah Panggangpe. Hampir sama dengan Rumah Kampung, Panggangpe juga merupakan rumah adat yang sederhana. Bangunan ini lebih difungsikan sebagai tempat berlindung dari hujan, angin, dingin, maupun panas matahari.

Rumah adat ini disangga dengan 4 atau 6 tiang, sementara di bagian sisi kelilingnya diberi dinding. Dinding tersebutlah yang difungsikan sebagai pelindung dari bahaya luar. Rumah Panggangpe banyak digunakan untuk kegiatan sosial seperti pos kampling maupun warung.

  1. Rumah Limasan

Rumah Adat Limasan Jawa

Rumah Limasan dibangun untuk keluarga masyarakat Jawa dengan kedudukan yang tinggi. Hal tersebut terlihat dari bangunan rumah Limasan yang terlihat rumit dan mewah. Sebagi rumah adat peninggalan nenek moyang, Limasan memiliki konstruksi bangunan yang kokoh. Rumah adat ini dibangun dengan 4 tiang utama dan dapat diperluas dengan menambahkan satu pasang tiang lagi di salah satu ujung atap.

Asal mula disebut sebagai rumah Limasan karena rumah ini memiliki denah berbentuk segi empat panjang atau bentuk limas. Atap rumah ini terdiri dari 4 atap, 2 atap dinamakan sebagai Kejen atau Cocor dengan bentuk segitiga sama kaki. Sementara 2 atap lainnya disebut sebagai Bronjong dengan bentuk jajar genjang sama kaki. Rumah adat Limasan kini sudah mengalami pengambangan, dimana struktur bangunan sudah ditambahkan atap emper di bagian sisi-sisinya.

  1. Rumah Tajug

Rumah Adat Indonesia Tajug
ilustrasi gambaran rumah adat tajug di Jawa

Berbeda dengan konsep rumah sebelumnya, rumah adat Jawa yang satu ini difungsikan untuk tempat ibadah. Rumah Tajug memiliki langgar dengan denah berbentuk bujur sangkar. Bentuk ini hingga sekarang masih dipertahankan dan belum mengalami pengembangan. Tajug dikenal juga dengan sebutan Masjid yang merupakan bangunan dengan atap Piramidal. Awalnya bangunan ini hanya difungsikan sebagai tempat memuja para leluhur.

Walaupun merupakan Masjid, namun Tajug memang berbeda dengan Masjid pada umumnya mempunyai kubah. Yang menjadi ciri khas dari bangunan ini adalah kontruksi bangunan yang berbentuk “Tumpang Sari” dengan atap berbentuk segitiga dan lancip sebagai lambang keabadian dan keesaan Tuhan.

Bagian Ruang Rumah Adat Jawa

Secara umum, rumah adat Jawa dibagi kedalam beberapa ruangan, dengan 3 bagian utama (Pendopo, Peringgitan, & Omah) dan 2 bagian tambahan (Dalem & Senthong)

  • Pendopo

Pendopo atau disebut juga sebagai Pavilium adalah bangunan yang terletak di bagian depan. Bagian inilah yang digunakan sebagai ruang untuk menyambut tamu atau mengadakan acara tertentu.

  • Peringgitan

Bagian kedua setelah pendopo adalah Peringgitan. Ini merupakan bagian rumah yang menghubungkan Pendopo dengan Omah. Ruang peringgitan dipakai untuk tempat “ringgit” yaitu tempat bermain wayang. Pada ruangan ini, bentuk atap berupa limasan atau atap kampung.

  • Omah

Setelah Peringgitan, ada ruang selanjutnya yaitu Omah. Inilah bagian utama dari rumah. Omah artinya Rumah, yaitu bangunan persegi dengan bagian lantai yang sedikit lebih tinggi dari Pendopo dan Peringitan.

  • Dalem

Ini merupakan ruangan tertutup dari bagian rumah adat Jawa. Dalem untuk Rumah Kampung dan Limasan biasanya digunakan sebagai pembeda anatara bagian depan dengan bagian belakang. Sedangkan pada Rumah Joglo digunakan sebagai pembeda bagan depan, tengah, dan belakang.

  • Senthong

Terakhir, senthong yaitu bagian balakang Omah yang terdiri dari 3 ruang tertutup. Senthong dibagian Barat dipakai untuk menyimpan hasil panen, seperti padi atau beras. Kemudian, Senthong dibagian Timur tempat menyimpan barang atau alat pertanian dan untuk Senthong bagian tengah digunakan untuk tidur.

Filosofi Rumah Adat Jawa

Rumah Adat Jawa Panggang pe

Pendopo

Rumah pendopo biasa dibangun lebih tinggi dari halaman atau jalan di luarnya. Hal ini ditujukan agar pemilik rumah bisa memakainya untuk bersantai duduk di pagi maupun sore hari.

Selain itu, pendopo yang dibuat lebih tinggi juga dibangun atas dasar mengurangi resiko air yang masuk karena hujan deras di sekitar rumah.

Berdirinya rumah pendopo di daerah Jawa juga dianggap bisa mengayuh keakraban antar warga. Karena selalu terbuka untuk semua orang yang akan mampir.

Pringgitan

Di dalam rumah adat Jawa. Terdapat sebuah ruangan yang diberi nama “pringitan”. Yang mana ruangan ini disediakan untuk sebuah pertunjukan wayang atau hiburan lainnya di dalam ruangan beratap. Bisa dipakai di siang hari maupun sore hari. Tak ada resiko terkena hujan maupun panas matahari.

Dewi padi (tokoh pewayangan) menganggap pringgitan melambangkan sumber segala kehidupan, kesuburan, dan kebahagiaan dalam hidup.

Dalem Ageng

Dalem ageng merupakan ruangan privasi yang dikelilingi dinding dan berbentuk segi empat. Dalam tradisi Jawa, dalem ageng juga harus ada 3 senthong atau kamar. Dengan dalih fungsi untuk menyimpan benda pusaka (krobongan), kamar tidur dan kamar tamu (kamar saudara).

Krobongan

Di ruangan ini aura ghaib sangat kental. Karena krobongan didesain layaknya kamar tidur dan lengkap beserta perlengkapannya. Namun juga untuk menyimpan benda pusaka juga.

Selain itu krobongan juga biasa digunakan untuk pasangan pengantin baru yang sedang melakukan malam pertama mereka. Sebagai simbol kesatuan Dewa Kamajaya dan Dewi Kama Ratih sebagai dewa-dewi asmara.

Gandhok dan Pawon

Ruangan paling belakang di rumah adat Jawa adalah pawon gandhok (dapur). Ruangan ini di tempatkan paling belakang agar terpisah jauh dari ruang-ruang utama diatas tadi.

Menurut adat Jawa, makan bukanlah sesuatu hal yang penting sehingga dalam membangun pawon pun tidak ada patokan khusus. Dalam Kitab Wulangreh yang disusun oleh Paku Buwana IV, dikatakan “Aja pijer mangan nendra” yang berarti jangan selalu makan dan tidur serta “Sudanen dhahar lan guling” yang berarti kurangilah makan dan tidur.

***

Demikianlah beberapa ulasan rumah adat yang terdapat di Pulau Jawa, baik Jawa Tengah, Jawa Timur, maupun Jawa Barat. Semoga bermanfaat. Bagikan juga artikel ini ke teman-teman anda bila dirasa sangat membantu mengenal ragamnya rumah adat Nusantara.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *