Pengertian Nikah Menurut Pandangan Islam

Pengertian Nikah Menurut Pandangan Islam

Pengertian Nikah Menurut Fiqih Islam – Nikah merupakan suatu anjuran dari Allah SWT untuk manusia agar peradaban manusia tetap ada, yakni pengendalian pertumbuhan generasi.

Fitrah manusia yakni saling membutuhkan, terutama bila dewasa membutuhkan sebuah ikatan kasih sayang untuk mewujudkan ketentraman jasmani dan rohani.

Nah, maka dari itu ada anjuran pernikahan agar halal segala sesuatu yang dilakukan laki-laki dan perempuan tanpa ada persangkaan zina atau perbuatan yang dilarang lainnya.

Untuk lebih jelasnya mengenai pengertian, syarat, rukun dan hukum nikah akan kami bahas dalam artikel berikut ini.

Pengertian Nikah

doa ijab qobul akad nikah pengantin baru

Sebelum membahas lebih dalam mengenai pernikahan. Alangkah baiknya memahami arti kata nikah atau pernikahan terlebih dahulu. Agar kontek yang ada padanya lebih mudah dimengerti setelah paham makna nikah.

Nikah Menurut Etimologi (Bahasa)

Menururt bahasa nikah adalah berkumpul, menyatu dan bersatu dalam satu naungan. Bila diambil sinonimnya bisa menjadi kata berbaur, berjodoh, beristri, berkeluarga, berumah tangga, kawin, zawaj, hidup bersama dan lain sebagainya. Sedangkan antonimnya adalah bercerai, berpisah dan tidak cocok atau tidak jodoh.

Kesimpulannya pernikahan adalah mengumpulnya dua orang, menggabungnya dua orang dan berjodohnya dua orang dalam satu naungan yang terdapat aturan di dalamnya.

Nikah Menurut Istilah Islam

Menurut istilah nikah adalah berkumpulnya dua orang atas dasar berjodoh dengan ikatan akad nikah, yang terdapat beberapa rukun dan syarat tertentu baik dari segi agama maupun adat istiadat.

Lalu nikah menurut pandangan islam juga disebut “zawaj” yang bermakna pasangan yang bisa diartikan jodoh yang halal dengan tindakan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan (zina).

Dalam agama islam pernikahan bukan semata berjodohnya seseorang dengan orang lain. Namun juga bernilai ibadah, baik dari hablumminallah (hubungan dengan Allah) maupun hablumminannaas (hubungan dengan manusia). Dan dari pernikahan tersebut dilanjutkan dengan berkeluarga dalam lingkup rumah tangga untuk mendapatkan keturunan.

Adapun tujuan dan hikmah menikah menurut islam baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Anda bisa membacanya di artikel hikmah pernikahan yang membuat orang segera menikah.

Pengertian Nikah Menurut Para Ulama’

  1. Ulama Hanafiyah menyebutkan pernikahan adalah akad untuk menghalalkan seorang lelaki memiliki perempuan (termasuk semua anggota badannya) sebagai penyalur syahwat kepuasan.
  2. Ulama Syafi’iyah mengartikan pernikahan sebagai suatu akad yang harus digunakan untuk mendapatkan pasangan dan bisa mendapat kesenangan atasnya.
  3. Ulama Malikiyah menyatakan bahwa nikah merupakan suatu lafal akad atau perjanjian suci yang dilakukan untuk mendapatkan kepuasan (luar maupun dalam) tanpa adanya harga bayar. Yakni halal atasnya apapun.
  4. Ulama Hanabilah memiliki pendapat bahwa nikah bisa diartikan perbuatan yang membuat laki-laki dan perempuan dapat memiliki kelegalan dalam kepuasan satu sama lain.
  5. Saleh Al Utsaimin, juga menyebutkan bahwa nikah yaitu tali penghubung antara lelaki dan wanita agar masing-masing dapat menikmati satu sama lain dalam unsur rumah tangga untuk membentuk keluaga yang baik dan bersih
  6. Muhammad Abu Zahrah telah menulis dalam kitabnya al-ahwal al-syakhsiyyah, yang dijelaskan mengenai pernikahan adalah sebuah akad yang membuat pasangan laki-laki dan perempuan menjadi halal dalam melakukan hubungan badan, namun ada hak dan kewajiban lain antar keduanya.

Pengertian Pernikahan Menurut Para Ahli

  1. Menurut Thalib, pernikahan adalah janji suci yang dibuat secara utuh dan kokoh antara laki-laki & perempuan supaya bisa membentuk sebuah keluarga yang santun, kasih dan bahagia.
  2. Menurut Kaelany H D, pernikahan merupakan ucapan akad calon suami & istri yang wajib dilaksanakan karena atas dasar aturan umat beragama dengan sebab dan tujuan agar bisa legal untuk memiliki seutuhnya.
  3. Menurut S Prawirohamidjojo, pernikahan yaitu persatuan hidup antara laki dan perempuan secara formal sesuai undang-undang dan keagamaan.
  4. Menurut UU yang mengatur perkawinan pada No.1 Tahun 1974. Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk rumah tangga yang bahagia lahir maupun batin dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa.
  5. Menurut kompilasi hukum islam (KHI) Pasal 2 perkawinan pernikahan yaitu akad yang sangat kuat atau untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.
  6. Menurut Dunvall dan Miller, pernikahan yaitu hubungan sah antara pria dan wanita dengan melibatkan hubungan seksual, tugas, hak dan kewajiban masing-masingnya.
  7. Menurut Prof. MR. Paul Scholten, pernikahan adalah hukum yang mengatur antara seorang pria dan wanita untuk hidup bersama dengan kekal dan dalam satu kontek keluarga serta diakui oleh negara.
  8. Menurut Wantjik Saleh, pernikahan merupakan ikatan lahir batin antara seorang (pria dan wanita) sebagai suami istri.

Rukun Nikah

Sebuah rukun adalah sesuatu yang harus ada pada sebuah agenda. Apabila rukun tidak ada maka agenda tersebut tidak sah. Maka bila salah satu rukun nikah tidak dilaksanakan maka nikah juga tidak sah. Adapun rukun tersebut meliputi :

  1. Calon kedua mempelai, laki-laki dan perempuan
  2. Wali dari mempelai perempuan
  3. Dua orang saksi
  4. Ijab Qabul
  5. Mahar

Syarat Nikah

wanita cantik nikah

Dalam menikah ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk berlangsungnya pernikahan yang sah. Adapun syarat yang harus ada yakni sebagai berikut.

Calon Suami

Seorang calon suami yang akan melaksanakan pernikahan harus telah lulus dari beberapa syarat yaitu beragama Islam, tidak karena paksaan & setuju untuk menikah, bukan mahram, identitas nasab jelas dan tidak sedang melaksanakan ibadah haji atau umrah.

Calon Istri

Sedangkan untuk calon mempelai wanita terdapat syarat-syarat yang dianggap lebih berat sedikit dibanding laki-laki. Pertama harus beragama Islam. kedua, bukan mahramnya, tidak dalam masa iddah, jelas identitas nasab-nya, tidak sedang melaksanakan ibadah haji atau umrah, tidak dalam kondisi bersuami. Kemudian telah memperoleh izin dari orang tua atau walinya.

Wali

Wali dalam pernikahan adalah orang yang bertugas melafalkan janji nikah (aqad nikah) dengan mempelai laki-laki. Dan wali juga biasanya lebih dianjurkan oleh seorang bapak dari mempelai wanita. Adapun sayrat yang harus dipenuhi seorang wali nikah yaitu:

  • Laki-laki
  • Dewasa
  • Adil
  • Beragama Islam
  • Berakal Sehat
  • Mempunyai hak atas perwakilan tersebut

Saksi

Agar akad nikah atau ijab qabul berjalan dengan memenuhi syarat. Maka harus ada beberapa orang saksi yang menyaksikan dan mendengarkan lafal akad nikah. Adapun syarat mengenai saksi yang hadir yakni sebagai berikut:

  • Beragama Islam
  • Dewasa
  • Berakal sehat
  • Tidak fasik
  • Bukan anak dari salah satu mempelai
  • Menyaksikan dan mendengarkan prosesi akad nikah.

Pertanyaan terkait : Berapa jumlah saksi nikah dalam acara akad pernikahan?

Jawaban : Rasulullah dari Ibunda Aisyah RA:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ وَشَاهِدَيْ عَدْلٍ، وَمَا كَانَ مِنْ نِكَاحٍ عَلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَهُوَ بَاطِلٌ.

Sungguh Rasulullah SAW telah bersabda, “Tidak ada nikah kecuali dengan adanya 2 orang sebagai saksi yang adil, dan nikah yang tidak seperti itu (tidak ada 2 saksi) maka batal (nikahnya).

Ijab Qobul

Ijab qobul yaitu serah terima yang sah ketika pernikahan. Dalam melakukan ijab qobul harus memenuhi beberapa syarat antara lain:

  • Mengucapkan nikah atau zawaj
  • Antara ijab dan qobul ada kecocokan
  • Dilakukan secara berturut-turut
  • Tidak ada syarat yang bisa memberatkan pernikahan itu
  • Ucapan akad nikah harus jelas dan bisa di dengar oleh para saksi

Baca : Contoh Teks Lafadz Akada Nikah Arab Singkat

Hukum Nikah

pengertian nikah

Ada beberapa faktor yang membuat nikah itu menjadi wajib, sunnah, makruh, mubah atau bahkan haram. Berikut ulasan ringkasnya.

Wajib

Hukum menikah menjadi wajib apabila seseorang telah mampu dan memiliki tekad untuk menikah. Dan apabila menunda dapat menjadikan perbuatan yang dilarang agama yakni berzina.

Sunnah

Hukum sunah berlaku bagi seseorang yang memiliki kemampuan menikah tetapi juga mampu menjaga diri dari perbuatan yang dilarang agama (zina). Dan disunnahkan untuk selalu menjalankan ibadah sunnah termasuk puasa agar penjagaan dari zina lebih intensif.

Makruh

Memiliki kemampuan menikah dan mampu menahan untuk tidak menikah. Namun langkah yang ia ambil bisa menjadikan madharat orang lain ataupun dirinya sendiri.

Mubah

Hukum nikah menjadi mubah bila seseorang menikah hanya untuk mencari kesenangan semata. Tidak didasarkan atas mencari pahala dan ridho Allah SWT.

Haram

Hukum haram menikah bila seseorang tidak mampu menikah dan jika ia menikah akan dapat merugikan calon istri dan anaknya ataupun orang lain juga.

***

Adapun bab lain mengenai pernikahan yang bisa anda baca agar lebih detail. Silahkan baca disini:

Terimakasih sudah membaca artikel mengenai pengertian nikah, rukun nikah dan syarat ketentuan berlangsungnya pernikahan. Semoga bermanfaat. Wassalam

Tinggalkan komentar