Pengalaman Pribadi Singkat Yang Mengesankan

Pengalaman Pribadi Singkat Yang Mengesankan

Pengalaman Pribadi SingkatDetik demi detik pasti dilalui semua makhluk hidup dan tak akan pernah ada kesempatan untuk kembali ke masa lalu. Beda orang beda cerita, beda waktu beda moment, itu lah hidup yang terus mengejar detiknya.. Waktu adalah anugrah pemberian luar biasa dari Tuhan Yang Maha Esa.

Banyak moment kehidupan pengalaman pribadi seseorang yang telah dikerjakan. Mulai dari masa kecil, dewasa hingga masa tua. Sudah banyak moment yang telah saya lalui hingga usia ku yang sekarang beranjak 20an tahun ini.

Dalam artikel ini saya akan menceritakan secuil cerita singkat, sejenis cerpen pengalaman pribadi dari kehidupan saya.

Pengalaman Pribadi Masa Kecil Lucu

pengalaman pribadi masa kecil lucu

Terlahir di era 90-an membuat generasi kecilku dahulu tanpa sentuhan elektronik di genggaman harianku. Pengalaman hidup masa kecil bisa dibilang sangat mengesankan dan lucu menggemaskan. Serasa ingin balik ke dunia tersebuat lagi.

Ketika bangun tidur yang dipikirkan hanya tentang pertemanan dan permainan di dunia luar rumah bersama sanak teman. Sementara saat ini anak-anak telah terkena virus gadget yang membuat mereka terlena dengan digital yang merajai tubuhnya.

Hidup anak zaman sekarang jauh berbeda dengan dahulu. Asupan instan selalu menjadi rujukan pertama mereka. Terpental masalah selalu keluh kesah yang terucap dari benaknya. Padahal susah payah adalah kunci generasi kita dalam mengarungi kerasnya hidup di masa depan kelak.

Eits mengenai cerita pengalaman pribadi masa kecil yang lucuc penuh drama natural seorang bocah kecil. Mari kita lanjutkan caritanya. Dahulu ketika bangun tidur anak selalu disuruh dan dianjurkan membantu orang tua mereka dalam menyiapkan segala rupa untuk hari itu sebelum berangkat sekolah.

Setelah sekolahpun kita sebagai generasi non-gadget juga selalu mencari cara agar bisa bermain bersama, meski bukan melalui gadget online seperti sekarang ini. Namun kita justru terlihat bahagia secara utuh. Dalam canda tawa dan bentuk raut muka sudah terlihat dari mata orang tua kita.

Seolah tak ada kata bentakan yang membuat sakit hati kita maupun orang tua. Luapan emosi pun dapat diredam karena seringnya bertemu dengan banyak orang.

Dalam permainan bersama teman selalu saja ada ide baru yang bisa kita ciptakan. Seperti main bola di jalanan, main bola dengan kertas, main layang dengan karya tangan sendiri dan sebagainya.

Nah dari situlah awal mula terbentuknya karakter produktif dan selektifnya masa kita. Ya, semoga anak sekarang bisa benar-benar memanfaatkan momen mereka agar tidak terjebak dengan gurih dan manisnya di depan benda berkaca.

Contoh Cerita Pengalaman Masa Kecil

Berkunjung ke rumah saudara dan kerabat merupakan hal yang afdhol bagi masyarakat Indonesia ketika lebaran tiba. Apalagi untuk bersilaturahim syawalan halal bihalal yang telah menjadi adat tahunan di negara kita tercinta ini.

Ketika saya berusia kecil sekitar 7-13 tahun acara ini merupakan perkara penting dalam hidup hehe. Angpao telah melambai-lambai di benak kita. Apalagi hadiah dari orang tua kita sendiri berkat usaha dan kerja keras dalam bulan ramadan.

Biasanya orang-orang memberi angpao atau uang THR kepada anak-anak tanpa ada alasan yang mendasar. Namun bagi keluarga kami, diajarkan untuk memberi angpao sesuai dengan prestasi anak tersebut. Meski hanya berselisih jumlah sedikit dengan mereka yang kurang prestasi dalam ibadah ramadan.

Keluarga saya menganggap itu bentuk pendidikan anak agar selalu terpacu untuk memberi apapun yang dia bisa lakukan di bulan suci ramadhan guna meraih kebaikan di bulan selanjutnya. Termasuk THR ini. Sebuah prestasi harus dihargai dalam bentuk apapun agar anak selalu memiliki misi dalam setiap langkahnya.

Berjalan dari rumah dengan ayah ibu dan adik kecil kami sekeluarga mengendarai sepeda motor yang di kendarai ayah berbonceng 4 dalam satu kendaraan. Saya duduk di depan (karena masih kecil) dan ibu duduk di belakang ayah dengan menggendong bayi kecil, adikku tercinta.

Kami biasa silaturahim ke tempat kakek nenek dan saudara ibu dahulu pada hari H lebaran yakni 1 syawal dan ke tempat kakek nenek dan saudara dari ayah di hari kedua syawal.

Meski berdempetan dalam kendaraan roda dua, hati riang selalu menyertai perjalanan kami. Tak lupa doa selalu kami ucapkan guna meminta kepada Allah atas perlindungan untuk kami.

Sesampai di tempat nenek kami langsung mengadakan acara sungkeman halal bihalal dan acara lain pada umumnya. Bertemu kakek, nenek, pakdhe, budhe, sepupu dan sanak saudara lain membuat hati senang dan rindu pada mereka terobati.

Pengalaman Pribadi Singkat Waktu Sekolah

pengalaman pribadi belajar sekolah
@pexels.com

Di negara tercinta kita Indonesia telah mendiktekan kepada seluruh pelajar untuk wajib belajar selama 9 tahun. Dan saya termasuk salah satu warga negara yang taat pada aturan kenegaraan. Saya telah menyelesaikan tahapan wajib belajar 9 tahun tersebut.

Meski pelajaran pertama yang kita dapat dari seorang ibu dan ayah. Namun kita tak boleh melupakan pelajaran formal yang akan menyeimbangkan kehidupan masa depan. Untuk itu saya ucapkan kepada orang tua ku yang telah mengajarkan banyak hal hingga aku dapat berbicara lancar dan baik. Tak lupa terima kasih juga atas bimbingan mengenai agama yang telah engkau sampaikan. Hingga sat ini masih terus dibimbing tentang keagamaan.

Awalnya, belajar memang berasa berat bagi ku, karena saya berpikir jika bermain lebih memberi hasil yang mencolok di waktu yang singkat cepat. Berbeda dengan belajar butuh proses lama dan hasilnya pun belum dapat dilihat dalam jangka pendek.

Untuk itu kedua orang tua ku perlu bujukan ekstra dalam menyekolahkan diriku di tingkat SD. Sungguh pemalu di kala itu. Setelah berinteraksi dengan teman-teman baru kepercayaan diri terbangun. Memupuk pikir dengan ilmu asing bagi bocah seusai ku. Semua mengalami nya termasuk Anda.

Banyak pengalaman yang saya dapat dari sekolah . Namun kali ini saya akan bercerita tentang dua mata pelajaran yang membuat otak acak-acakan.

Pengalaman Belajar Dua Bahasa yang Malah Bikin Pusing

Bahasa Arab bagiku bahasa paling unik, aneh dan dapat membuat IQ seseorang bertambah. Sebegitu rumitnya pelajaran ini membuatku selalu pusing bila Guru mengajarkan di kelas. Mulai dari kelas 3 SD saya telah diajarkan mapel tersebut. Karena SD Islam maka adal mapel Bahasa arab.

Mulai dari perlafalan yang membuat lidah dan bibir harus bergerak lunak elastis. Bila pelafalan huruf telah benar, belum tentu saya paham dan tau arti kata tersebut. Memang tak semudah ilmu pasti seperti matematika dan biologi.

Kemudian setelah beranjak ke level kelas yang lebih tinggi yakni kelas 5 SD, Guru pun mulai mengajarkan tata bahasa Arab mengenai nahwu dan shorof yang lebih memutar otak. Beda antara satuan dan jamak, perbedaan harokat akhir, perubahan subyek obyek dan masih banyak lagi.

Ketika ujian pun demikian, saya sering mengacak jawaban dengan cara memutar penghapus yang telah di beri tanda ABCD guna mengacak jawaban, lotre. Pokoknya gak tau maksudnya karena tulisannya arab semua. Sungguh memalukan. Padahal perlu bisa bahasa arab untuk bisa mengartikan isi al-quran.

Begitu pula dengan pelajaran Bahasa Inggris. Hampir setiap pertemuan pasti diejekin teman sekelas karena tidak fasih dalam pelafalan kata dan kalimat bahasa inggris ketika SMP.

Boro-boro tau arti kalimatnya. Baca katanya saja sudah bingung. A [ ei ] B [ bie ] C [ sie ] D [ die ] E [ ie ] F [ ef ] G [ jie ] H [ eic ] I [ ai ] dan seterusnya.

Dibalik pusing dan tidak fahamnya diriku selama SD dan SMP waktu  itu. Kini telah menghantarkan ku dapat berbicara dengan bahasa Arab dan bahasa Inggris mesti masih dengan terbata-bata. Dan yang tak pernah saya sesali setelah dewasa ini, saya dapat merasakan jerih payah pusing tujuh keliling ketika belajar kedua bahasa tersebut.

Banyak pengalaman dan hal baru setelah faham, mengerti dan mempraktikannya di dewasa ini. Dengan sadar dan sengaja saya ucapkan terima kasih kepada para Guru yang telah mengajarkan ku tentang arti pantang menyerah dan arti sebuah pengalaman. Karena dengan pengalaman akan ada hikmah di masa depan.

Pengalaman Pribadi Ketika SMA

SMA – kata lagu lawas “masa-masa paling indah, masa-masa di Sekolah”. Iya memang begitu faktanya. Masa orang puber beranjak dewasa. Selalu berambisi pngin mencoba sesuatu yang baru. Entah itu positif atau negatif pada masa SMA pasti akan nekad bertindak.

Menurutku ini masa paling aneh. Perubahan drastis dari yang dulu saya seorang pendiam, cupu dan gak pernah ngelucu. Setelah masuk kelas 2 SMA berubah total. Suka ngelawak dan PD aja kalau ngelakuin apapun. Termasuk potong rambut aneh hingga kelakuan aneh bersama teman-teman, meski salah atau bener itu urusan akhir. Duh sedih kalau inget.

Inti dari pengalaman di SMA adalah semua hal mengenainya telah mengajarkan arti perpisahan. MAsa dimana puber berawal, masa dimana kegilaan muncul dan masa dimana kedewasaan mulai tumbuh dan berkembang.

Sudah ajalah gak usah diceritain masa SMA ku, kapan-kapan saja kalau ada waktu agak panjang. Ini artikel soalnya lagi dikejar dateline. Pengalaman pribadi singkat SMA selesai. Hehe.

Pengalaman Pribadi Kerja

pengalaman pribadi kerja di pabrik percetakan
@pexels,com

Setelah SMA selesai saya pun mulai bingung mau mengawali darimana kehidupan baru ini. Daftar kuliah di PTN dua kali gak diterima yaudah nganggur dulu aja. Rencana tahun depannya mau coba daftar lagi.

Pengalaman Pertama Melampirkan Surat Lamaran Kerja

Karena belum ada aktivitas produktif, inisiatif mendaftar kerja mulai muncul. Tanpa pikir panjang waktu itu tepatnya bulan Agustus, langsung saja saya membuat beberapa Surat Lamaran Kerja untuk dimasukan ke beberapa Pabrik yang membuka lowongan kerja.

Setelah selesai penulisan dan perlengkapan data ku kirimkan langsung surat tersebut ke beberapa Pabrik di komplek dekat rumah saya. Kebetulan daerahku di kelilingi pabrik-pabrik besar.

Selang beberapa pekan akhirnya salah satu dari instansi yang ku lampirkan pendaftaran kerja telah memberikan kesempatan guna melakukan wawancara. Atas izin Tuhan Penguasa Alam Semesta semua seleksi lancar dan akhirnya saya punya aktivitas yang produktif. Karena bagiku pengangguran itu menyebalkan, itu menurutku sih.

 Pengalaman Singkat Ketika Produksi Mushaf Al-Quran

Perusahan Percetakan AL-Quran. Bekerja di Pabrik yang didalamnya mengandung aktifitas ibadah membuat hati ini berlipat-lipat ikhlas dalam melakukan pekerjaan. Karena kami mencetak dan memproduksi sesuatu yang bila dibaca orang lain dapat pahala. Terlebih lagi bagi penyalur tenaga seperti saya, semoga juga dapat pahala dari ikut andilnya mempermudah orang untuk membaca Al-Quran.

Setiap hari saya ikut andil dalam memproduksi 4000-5000 Kitab AL-Quran. Meski andil dalam porsi yang minim itu suatu kebanggan tersendiri, Insya Allah.

Pindah tema. Dari bekerja itulah saya mulai mengenal uang. Setahun berlalu, rencana masuk PTN pun gagal, kerja lebih menggoda fikir dalam hatiku. Namun itu bukan pilihan yang salah karena setiap langkah pasti memiliki tujuan. Tujuan yang panjang telah ada dan telah ku genggam.

Pelajaran yang dapat saya ambil dari pengalaman kerja adalah cintailah aktivitasmu, cintailah pekerjaan mu, niscaya akan kau dapati dunia dan pahala.

Dari pekerjaan sebagai operator mesin produksi Kitab Al-Quran saja dapat menghasilkan pahala kebaikan, kenapa aku harus meningglkannya. Itulah yang terpikir oleh ku di kala itu.

Kegembiraan itu ada ketika kita bekerja. Karena kita bekerja tanpa ada rasa terpaksa

Cerita Pengalaman Pribadi Singkat Tentang Rasa Cinta

cinta Allah SWT
@GiseleHaralson,com

Saya tipe orang yang sulit merangkai kata mutiara sebagaimana Abu nawas bersajak, apaplagi kata cinta. Pemanis di lidah yang ujungnya membuat rasa pahit di semuanya. Yak, kata cinta pada seseorang.

Membahas masalah cinta, bagi kaum pemuda cenderung tertuju kepada antar belahan jiwa yakni adam dan hawa. Namun kali ini aku akan cerita tentang rasa cintaku pada kedua orang tua dan Tuhan sang Pencipta Semesta.

Cinta, sayang kepada kedua orang tua adalah suatu kewajiban bagi setiap manusia. Terutama bagi mereka yang masih memiliki kedua orang tua secara utuh, masih hidup. Wajib baginya untuk selalu berbakti dan mendoakannya. Begitu pula pada diriku.

Memang seorang lelaki bila mengungkap rasa cintanya lebih gengsi, malu. Leih baik disimpan dari apda diumbar. Itulah yang kurasa bila mencintai sesorang. Saya sangat mencintai kedua orang tuaku, meski mereka beranggap A/B/C dan bahakan D itu terserah mereka. Yang terpenting rasa cintaku telah kualirkan lewat do’a-do’a yang setiap kali kubersimpuh kepada Tuhan Sang Penguasa Jagad ini di waktu mustahabnya.

Sering kali anak laki-laki dibilang tidak kontrol diri. Lebih sering keluarnya daripada di rumahnya. Itu mungkin sebagian pemikiran orang tua, semoga orang tua saya tidak begitu. Mereka berpikir bahwa perginya anak lelakinya dari rumah karena mencari ridhonya dan ridho Ilahi pula.

Maka rasa cinta ku pada kedua orang tua ku hanya dapat kualirkan melalui doa dan sikat tunduk dan hormat kepadanya. Disamping itu ridho kedua orang tua juga termasuk ridho Allah. Jadi bila kita cinta orang tua maka kita juga cinta pada Allah SWT.

Cerita Pengalaman Pribadi Mengesankan di Pesantren

pengalaman pribadi nyantri pesantren
@pixabay,com

Setelah bertahun-tahun bekerja. Dari Percetakan Al-Quran hingga banyak kerjaan lain yang belum dapat saya tuliskan. Kali ini saya akan menceritakan secerca cerita pendek (cerpen) kehidupan baru ku di Pondok Pesantren.

Tempat yang penuh drama, sakral dan keharmonisan yang dapat mengeratkan persaudaraan hingga akhir zaman. Kegiatan keagamaan yang terus ditekankan, percaya diri yang terus diajarkan membuat banyak orang tua percaya mempercayakan anak-anak mereka ke pendidikan Pesantren.

Meski baru saja merasakannya namun seperti sudah ada hasil yang signifikan. Pendidikan tentang dunia telah para Guru ajarkan, tak lupa mereka para ustadz mengulurkan ayat-ayat, dalil-dalil tentang ilmu agama yang melejitkan iman serta menetramkan pikiran.

Bukan hanya ilmu saja yang saya dapatkan. Pengalaman hidup pun juga kutemui. Dari ragam budaya, ragam logat berbahasa dan berbagai macam ragam madzhab yang berbeda seta dari latar belakang keluarga yang bervariasi. Dari sinilah saya mulai mengenal betapa besarnya toleransi.

Begitu juga dengan wawasan, banyak cerita dan hikmah dari wawasan yang digagaskan oleh rekan antar satu dengan yang lain yang nantinya akan menjadi ilmu baru di kehidupan mendatang.

Mulai dari mereka yang bersekolah di Universitas ternama, bekerja di Perusahaan terkenal di Jakarta,mengajar dan belajar di lembaga penghafal Al-Quran hingga mereka yang pernah ke Luar negeri untuk belajar maupun bekerja.

Intinya dengan berad di Pesantren pemikiran saya lebih terbuka dengan hadirnya teman-teman yang baru. Dan hal itu menyadarkan bahwa masih ada ratusan atau bahkan jutaan  tipe manusia yang belum saya kenali.

Keseharian saya dan santri lain telah terjadwal. Mulai bangun pagi sampai tidur lagi. Hampir semua aktivitas pagi sampai malam itu semua bernilai produktif bukan sia-sia, masya Allah.

Sikap ta’dhzim juga telah mbeliau-beliau ajarkan. Sikap hormat menghormati kepada yang lebih tua dan berilmu. Dan masih banyak lagi ilmu yang telah diajarkan kepada kami. Terima kasih para Guru dan para Ustadz dengan ikhlas dan sabar mereka semua mengajar tanpa pamrih. Semoga beliau-beliau dilancarkan rezekinya, dimudahkan kesehariannya, ditambah keistiqomahan serta kesabarannya dan tak lupa semoga selalu dipanjangkan umurnya.

***

Semoga pengalaman-pengalaman pribadi saya dan Anda dapat menjadi cerita menarik bagi anak cucu kita di kelak hari. Dimana kita dituntun untuk menceritakan dongeng, alangkah baiknya bila kita menceritakan pengalaman pribadi singkat yang lebih realistis yang penuh pendidikan. Karena sebaik-baik guru adalah pengalaman. Meski sedih, senang, luka, bahagia itu akan selalu ada hikmahnya.

Tinggalkan komentar